Mencari Lailatul Qadar Bersama Gus Baha

berita terbaru nu kita
Gus Baha Saat Menjelaskan Tentang Lailatul Qadar dalam Program Acara bersama Narasi TV. (Foto: Istimewa)
Rabu, 05 Mei 2021 - 03:17 WIB | Dilihat: 1.83k

NUKITA.ID, MALANG – Salah satu momen yang ditunggu pada saat bulan Ramadhan adalah malam Lailatul Qadar, Najwa Sihab bersama Narasi TV menghadirkan  program yang mengusung tema Bersama Gus Baha, Mencari Lailatul Qadar pada Minggu 2 Mei lalu melalui channel YouTube nya.

Menghadirkan Prof. Dr. M Quraish Shihab yang berbicara tentang Lailatul Qadar. Menurut beliau, Lailatul Qadar adalah tamu agung yang tidak akan berkunjung kepada seseorang yang tidak diyakini bisa menyambutnya dengan baik. “Orang yang dikunjungi Lailatul Qadar adalah orang yang siap untuk dikunjungi. Persiapan itu selama ini terkadang terlambat,” ungkapnya. Pendiri Pusat Studi Al-Qur'an itu mengungkapkan, seharusnya sebelum malam 27 Ramadhan sudah ada persiapan. “Ada ungkapan bulan Rajab adalah bulan menanam, Sya’ban itu menyiram, Ramadhan saatnya memanen. Jadi harus menyiapkan sejak awal,” pungkasnya.

Selain itu, lanjut Prof Quraish, untuk mencari Lailatul Qadar harus memiliki hati yang damai, diri yang damai, termasuk damai kepada orang lain. “Lailatul Qadar tidak akan datang pada orang yang tidak damai,” lanjut beliau.

Dijelaskan pula oleh KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang kerap disapa Gus Baha bahwa "Dimana-mana yang namanya mencari itu ya ada persiapannya. Terkadang kita tidak melakukan persiapan, tapi merasa mencari. Kalau tidak ada persiapan, namanya menunggu. Bukan mencari,” ujar beliau. Teks mengenai Lailatul Qadar, kata Gus Baha, telah disabdakan Rasulullah SAW dalam hadis sahih agar kita mencari. “Bagi seseorang yang meyakini malam Lailatul Qadar datang di atas tanggal 20, jangan menafikan persiapan sejak 1 Ramadhan atau bahkan mulai bulan Rajab,” terangnya.

Gus Baha juga menekankan pentingnya menjaga perbuatan selama Ramadhan. “Rasulullah SAW sering menyontohkan agar jangan membicarakan orang lain, jangan melakukan perbuatan dosa saat Ramadhan. Akan sia-sia pahala itu karena diambil orang yang kita bicarakan,” ungkapnya. Menurut Gus Baha, perlu perhitungan-perhitungan hukum yang matang. “Apa artinya Ramadhan jika memakan riba atau hal haram, kemudian membicarakan orang lain,” tuturnya. Beliau juga menambahkan, hukum-hukum tentang puasa, selain hukum dasar fikih yaitu tidak melakukan sesuatu yang membatalkan puasa, juga harus memakai hukum ilmu tasawuf. “Seperti menjauhi riba, ghibah, dan namimah. Caranya agar bisa husnudzan kepada orang lain adalah melihat semuanya berdasarkan takdir Allah. Kita baik, tapi juga bisa buruk. Nah, yang sekarang buruk bisa jadi suatu saat jadi baik,” jelasnya.

Gus Baha menegaskan, manusia tidak diutus Allah SWT untuk meneliti orang lain. Dengan mental demikian, di bulan Ramadhan kita lebih fokus mencari ridha Allah SWT dan mendoakan orang mukmin semuanya. Hal tersebutlah merupakan persiapan penting dalam mencari Lailatul Qadar.(*)


Pewarta : Roikhatul Zahra
Editor : Tim Nukita
Tags : , , , , ,

Comments: